CARA MENCARI IDE UNTUK MENULIS DAN MENUANGKAN BAHAN YANG DIKEMBANGKAN DALAM MENULIS PUISI

Beberapa cara dapat kita lakukan untuk ‘memancing’ ide agar kita bisa membuat tulisan tanpa perlu merasa kesulitan dalam mencari ide. menurut Andi (dalam http.forumkami.com) ada beberapa cara untuk ‘memancing’ ide agar kita bisa membuat tulisan tanpa perlu merasa kesulitan dalam mencari ide.
1. Tingkatkan kepekaan diri terhadap peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Lingkungan sekitar kita berpotensi sebagai tema tulisan. Banyak peristiwa yang terjadi dalam satu hari, yang pastinya terkandung peristiwa unik, yang dapat dijadikan bahan tulisan. Kita harus peka dan mau melihat segala peristiwa dari sudut pandanng yanng berbeda. Ini penting supaya kita mempunyai ide brilian yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain sebelumnya.

2. Ambil hikmah dan refleksikan setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Setelah kita melihat sebuah hal, jangan hanya melihatnya selayang pandang saja; melihat lalu mengacuhkannya. Dalam setiap peristiwa pasti terkandung sebuah hikmah yang tidak setiap orang dapat mengungkapkannya. Tidak terkecuali, sebuah musibah pasti menyimpan hikmah yang dapat kita jadikan bahan refleksi.

Refleksi yang kita tangkap dapat kita jadikan tulisan, entah berupa cerpen, puisi, novel, berita, artikel, skenario film, naskah pidato, bahan training, dsb. Semua bahan refleksi tadi dapat dijadikan ide tulisan sesuai dengan minat kita. Tinggal bagaimana kita mau mengemasnya dalam tulisan nanti.

3. Perbarui otak kita dengan vitamin otak yang segar.

Vitamin yang dimaksudkan di sini bukanlah suplemen penguat memory dalam otak yang sering kita jumpai di televisi. Vitamin otak di sini adalah wawasan dan pengetahuan yang terus kita tambahkan dengan memanfaatkan berbagai sumber, seperti media massa, cetak maupun elektronik. Kita bisa mencari ide dengan membaca koran, majalah, mendengarkan radio, browsing berita di internet, menonton televisi, dsb. Semua media di atas akan memudahkan kita dalam menambah pengetahuan.

Kita tidak boleh terpaku untuk mencari berita yang berkaitan dengan bidang kita saja. Namun, kita juga perlu menambah wawasan di luar bidang kita. Bagaimanapun juga, tidak ada pengetahuan yang sia-sia. Semua hal yang kita ketahui bermanfaat bagi kita, dan dapat mengasah pola pikir, serta menambah intelektualitas kita sebagai makhluk intelektual.

4. Jangan buang ide yang muncul, catatlah, dan buat buku catatan inspirasi.

Setiap kali kita menemukan ide baru, janganlah dianggap remeh, atau membuangnya begitu saja. Catat dan buatlah sebuah buku inspirasi yang memuat semua ide tersebut. Jangan takut ide kita tidak relevan dengan tulisan yang ingin kita buat saat ini. Bisa jadi ide kita dapat digunakan di lain kesempatan, dan kita tinggal memilah mana ide yang relevan, atau mana yang mendukung tulisan berikutnya.

Ada baiknya kita membawa sebuah buku catatan, kertas kecil, handphone, atau apa saja yang dapat digunakan sebagai media menulis. Setelah tercatat, kita bisa pindahkan dalam buku inspirasi yang kita buat. Ingat, tulis ide-ide kita di sebuah buku agar inspirasi kita tidak terpisah-pisah, dan kita juga mudah menggunakannya ketika butuh.

5. Ketika melihat masalah muncul, berpikirlah kreatif.

Kreatif merupakan hal yang sering ditekankan oleh setiap orang dalam berpikir. Kenapa harus dengan cara kreatif? Karena, dengan pola pikir yang sama seperti kebanyakan orang, mungkin kita tidak akan menemukan something new, something different, yang membuat kita berbeda dari orang lain. Kreativitas yang tinggi merupakan nilai berharga yang wajib dimiliki oleh setiap penulis. Dengan berpikir kreatif, kita pun dituntut untuk terus mengasah kinerja otak serta membiasakan diri untuk tidak menunggu insight. Sebaliknya, kita harus mampu memunculkan insight setiap saat.

6. Tidak ada ide yang salah.

Kita perlu membangun sebuah konsep yang harus kita tanamkan dalam diri kita, bahwa tidak ada ide yang salah. Kita harus berani mengungkapakan segala ide yang muncul. Kesalahan kita bianya lebih karena takut mengungkap ide tersebut menjadi sebuah tulisan. Sehingga, kita mempunyai banyak kekhawatiran yang tidak beralasan. Akibatnya, kekhawatiran itu justru menghambat kita dalam menulis.

Jadi, jangan pernah takut mengungkapakan sebuah ide. Karena, setiap ide adalah hal yang berharga. Jangan sampai kita menyesal kalau kita tidak jadi mengungkapkan ide kita, dan pada akhirnya orang lainlah yang sukses mengungkapkan ide yang ternyata mirip dengan punya kita.

7. Rekreasi atau refresh otak dengan hal-hal yang menyenangkan.

Jika kita lelah dan tubuh bekerja terlalu keras, ada baiknya kita rekreasi atau cari kegiatan yang bisa menyegarkan kembali tubuh maupun pikiran kita. Jika waktu kita terbatas, kita dapat melakukan hobi yang sudah lama ditinggalkan. Hal ini akan membantu menyegarkan tubuh dan pikiran sehingga kita dapat bekerja dengan suasana yang lebih bagus lagi. Selain melakukan hobi lama, kita juga dapat berkunjung ke rumah saudara atau teman sekadar melepaskan penat atau cari inspirasi.

8. Terus asahlah otak dengan menulis kejadian sehari-hari.

Tidak memerlukan ide besar dalam menulis kejadian sehari-hari. Menuliskan kejadian sehari-hari akan membuat kita mampu menganalisis sebuah peristiwa dengan lebih baik. Dengan menulis, kita akan semakin terlatih dalam mengungkapkan ide ke dalam sebuah tulisan. Bisa jadi tulisan kita tentang peristiwa sehari-hari merupakan hal yang menarik untuk dikembangkan, sehingga kita tidak mengalami kesulitan lagi dalam mencari ide.

9. Berbicaralah dan berdiskusilah dengan orang lain.

Berbicara dan berdiskusilah dengan orang lain tentang berbagai topik. Ini akan membuka pikiran dan wawasan kita. Pertukaran ide melalui diskusi akan semakin memperkaya hasil analisis kita terhadap sebuah masalah. Dengan begitu, kita dapat dengan lebih mudah menemukan solusi atas suatu masalah, terlebih lagi jika kita sebelumnya kesulitan menemukan solusinya. Andi (dalam http.forumkami.com).

2.2 PROSES PENULISAN SEBUAH PUISI
Sebagai sebuah aktivitas berkesenian, puisi memiliki sebuah proses kreatif dibaliknya. Selain sebagai sebuah aktivitas berkesenian, puisi juga merupakan sebuah aktivitas menulis, atau dalam bahasa saya akan saya istilahkan sebagai aktivitas pembahasaan. Puisi memiliki muatan-muatan bahasa, ada kata, ada frasa, ada kalimat, ada tujuan berkomunikasi, dan adanya sebuah ekspresi. Setiap puisi tidak serta merta hadir begitu saja tanpa adanya sebuah proses panjang. Proses tersebut yang nantinya akan membedakan puisi dengan karya tulis lainnya, yang juga merupakan aktivitas pembahasaan, seperti cerpen, novel, curahan hati, bahkan karya-karya ilmiah macam skripsi, essay, jurnal, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana sebuah puisi itu bisa muncul dalam sebuah tulisan, dan apa yang membuat dia berdiri sebuah karya bernama puisi, bukan karya tulis lainnya?
Menurut Beni (dalam http://pabriksendal.wordpress.com/2010/10/02/proses-sebuah-puisi/), sebuah puisi hadir akibat dari harapan si penulis tentang puisi itu sendiri. Puisi bergentayangan dalam bentuk ide, dan masih tercerai berai dalam bentuk kata-kata. Ketika ada sebuah tragedi/peristiwa/fenomena, barulah si penulis mengeluarkan puisi tersebut, kata demi kata dari dalam dunia idenya. Apa yang nantinya membedakan kata-kata yang ingin dipakai dalam puisi itu menjadi sebuah kata-kata puitis, adalah harapan. Apabila kita berharap menulis puisi, tentu kita akan memilih dan menyeleksi kata apa yang ingin kita pakai, dan kata mana yang tidak ingin kita pakai. Begitupun ketika kita ingin menulis sebuah karya tulis lain, dan harapan awal menentukan bentuk karya tulis kita. Sederhananya, apabila awalnya kita berharap menulis essay, ditulis dengan gaya puitis pun hasil akhirnya tetap essay.
Kemudian, setelah harapan menulis puisi itu muncul, si penulis kemudian mencari ide untuk puisinya. Ide ini menentukan tentang hal apa yang ingin dia tulis dalam bentuk puisi. Apabila ide tersebut tak kunjung hadir, harapan si penulis untuk menulis puisi pun bisa menjadi ide. Misalnya saja puisi sebagai berikut.
Aku ingin menulis puisi, entah darimana asalnya. Aku kehabisan akal untuk menangkapnya. Entah dia terbuat dari hal macam apa, entah daun kering, tanah menggumpal, atau hanya berbentuk cahaya yang genit menembus dinding kamarku. Aku bingung, harus mulai darimana.Puisi adalah kebingungan itu sendiri.
Puisi sederhana tersebut menggambarkan bahwa ide yang didapat dalam menulis puisi berasal dari harapan tentang menulis puisi itu sendiri. Aku ingin menulis puisi, entah darimana asalnya. Aku kehabisan akal untuk menangkapnya, menggambarkan bahwa si penulis tidak punya ide untuk dibahas dalam puisinya, dan ide tersebut diambil dari harapannya untuk menulis puisi, tentang kebingungan menulis puisi itu sendiri. Entah dia terbuat dari hal macam apa, entah daun kering, tanah menggumpal, atau hanya berbentuk cahaya yang genit menembus dinding kamarku, merupakan sebuah pengalaman atau hal-hal yang ada disekitar si penulis.
Puisi sangat dipengaruhi oleh pengalaman bahasa si penulis puisi itu sendiri. Sebagai contoh puisi diatas tadi, penulis satu dengan penulis lain memiliki pengalaman bahasa sendiri-sendiri. Pengalaman bahasa bisa muncul dari buku apa yang dia baca, hal-hal apa yang ia senangi, dan orang macam apa dia. Hal tersebut menentukan bentuk puisi yang ditulis. Saya akan mencontohkan sebuah puisi lagi, masih menggunakan puisi yang sama, hanya saja sedikit dirubah.
Tak ada puisi hari ini. Hanya huruf p-u-i-s-i yang berserakan diatas meja.Yang kubaca TAHI.
Puisi tersebut sama saja dengan puisi sebelumnya, hanya saja beda ekspresinya. Ini yang saya maksud dengan pengalaman bahasa menentukan sebuah puisi itu seperti apa.
Ketika ketiga hal tersebut (harapan—ide—pengalaman bahasa) dirangkai menjadi sebuah rantai, maka yang harus segera dilakukan adalah menulis. Pengalaman bahasa masih berbentuk konsep-konsep di alam ide si penulis puisi. Artinya, setiap penulis puisi mempunyai konsep-konsep sendiri yang selalu ada didalam kepalanya, yang bisa saja dia katakan/tuliskan setiap saat. Ketika pengalaman bahasa tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan, barulah puisi itu muncul dan bisa dibaca oleh setiap orang.
Ada sebuah garis putus yang menghubungkan antara harapan si penulis terhadap puisi dengan aktivitasnya menulis puisi itu. Garis tersebut menggambarkan bahwa ada sebuah korelasi antar keduanya. Aktivitas menulis puisi tersebut adalah sebuah kristalisasi dari harapan-harapannya tentang puisi itu sendiri. Ketika aktivitas menulis berhenti, maka terciptalah sebuah puisi yang merupakan ekses dari rangkaian semua itu.

Menulis merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan, apalagi kegiatan menulis kita berjalan lancar tanpa ada halangan dalam mencari ide, tapi jika mencari ide saja sudah sulit menulis akan terlihat membosankan dan sangat berat di otak. Menurut Rizal (dalam http://rizalfikry.com) ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan ide, diataranya:
1. Mulailah menerawang tentang hal-hal unik dalam diri kita sendiri. Hal unik dalam diri kita akan lebih mudah di imajinasikan dan itu akan mempermudah kita dalam menulis. Dan jika tulisan sudah jadi kita akan bangga dengan tulisan itu, karena itu adalah diri kita.
2. Setelah diri kita, ambil pokok masalah atau hal menarik di sekitar kita. Hal disekitar kita sama gampangnya diangkat sebagai tulisan seperti diri kita karena kita berinteraksi dengan itu setiap hari.
3. Bisa juga kita mengambil masalah yang sedang ‘in’ di daerah kita, di Negara kita ato di Dunia. Seperti masalah KPK sama POLRI, atau masalah kiamat 2012, semua topik tersebut pantas untuk ditulis dengan bentuk tulisan seperti apapun *resiko ditanggung penulis*.
4. Bisa juga kita mencari ide tentang suatu hal yang kita sukai, karena menulis apa yang kita suka seperti bermain dengan apa yang kita suka.
5. Menulis tentang kuliah kita juga bisa kita lakukan
6. Cari referensi tentang ide dari buku-buku.

Penulisan puisi memerlukan kreativitas dan imajinasi yang tinggi agar puisi-puisi yang kita ciptakan tidak monoton ataupun biasa-biasa saja. Penulisan puisi yang serius dapat menjadikan kita seorang penyair yang berkualitas. Jadi, kita menciptakan puisi tidak hanya untuk sekadar mengisi waktu luang dan iseng belaka. Tetapi lebih pada keseriusan untuk membuat karya sastra yang penuh makna.
Kegiatan menulis memang membutuhkan kerja otak yang lebih, seperti halnya kegiatan membaca. Menulis merupakan salah satu cara mengungkapkan pikiran, rasa, ide ataupun keinginan tanpa perlu takut atau menjadi salah tingkah. Menulis dengan keseriusan dapat membawa kita kepada kesuksesan.
a. Aturan Main Penulisan Puisi
Untuk penulisan puisi baru atau modern, aturan baku yang ada dalam puisi lama tidak berlaku. Hal ini disebabkan oleh keinginan para penyair untuk memiliki kebebasan dalam mengungkapkan rasa dan ide-idenya. Kebebasan berkarya itulah yang membuat kebebasan bentuk, isi, dan gaya penulisan puisi modern.
Tidak ada juga ketentuan tentang bahasa puisi harus metaforis atau merupakan kumpulan kata-kata indah. Karena bahasa yang dipergunakan dalam penulisan puisi, bahkan bisa hanya berupa tanda baca saja. Namun, seyogyanya penulisan puisi (bagaimanapun bentuk dan isinya) tetap memiliki maksud serta tujuan positif yang dapat dipertanggungjawabkan dalam moral berkesenian. Bukan menulis puisi hanya untuk mencari sensasi atau hanya untuk disebut sebagai sang penyair.
Menurtu Anne (dalam anneahira.com) unsur-unsur puisi terdiri dari rangkaian ide atau pemikiran, imajinasi, irama, susunan kata, serta kepekaan rasa. Kesemua unsur ini haruslah ada dalam sebuah karya puisi. Dengan semua unsur penciptaan inilah puisi dibuat. Meskipun unsur-unsur dalam sebuah puisi hampir semuanya sama, tetapi gaya penulisan dan pengungkapan masing-masing penyair berbeda-beda.
b. Beberapa Contoh Gaya Penulisan Puisi
Hampir semua orang dapat menulis puisi, di antara sekian banyak puisi yang tercipta. Beberapa diantaranya memiliki gaya penulisan puisi yang sangat khas, menjadi ciri tersendiri bagi si penulis atau penyairnya. Gaya penulisan dengan keindahan kata, lirik-lirik ritmis, biasanya merupakan ungkapan perasaan tentang cinta atau keindahan dari si penyair. Contohnya, puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad atau Soni Farid Maulana.
Gaya penulisan dengan bahasa lugas, jelas dan tanpa metafora sama sekali. Pesan dari isi puisi pun dapat langsung kita tangkap. Puisi Widji Tukul yang berani dan tanpa tedeng aling-aling merupakan salah satunya.
Gaya penulisan puisi dengan bahasa yang ‘gelap’ atau biasa disebut absurd. Maksudnya ialah kosakata yang dipakai memang berupa kosakata yang dapat dipahami, penggunaan struktur kalimatnya pun mudah dimengerti, tetapi karena penempatan konsepnya yang arbitrer dengan teknik intertekstualitas (artinya penciptaan makna yang lintas teks atau makna-makna yang ada saling tergantung pada makna yang lainnya) dan brikolase (penataan ulang dengan memadukan simbol-simbol yang sebelumnnya tidak berkaitan menjadi berkaitan dan menghasilkan makna-makna baru dalam konteks yang baru.
Gaya penulisan puisi dengan kata-kata yang terkristalisasi. Daya magis penulisan puisinya terdapat dalam diksi yang betul-betul terpilih, yang bermakna dari sebuah proses pencarian kata yang betul-betul dalam hingga ke saripati katanya. Jadi setiap kata memiliki makna yang betul-betul serius, tak ada kata yang ‘sekedarnya saja’.
Yang terakhir ialah gaya penulisan model Sutardji Calzoum Bachri, ia memilih serta merangkai kata-kata bagai mantra, tanpa sarat beban pemaknaan dalam kata-katanya. Ia seolah menari dengan setiap kata, huruf, bahkan tanda baca.
Memilih gaya penulisan puisi yang mana saja adalah hak kita. Asalkan benar-benar memahami setiap pemaknaan karya milik kita sendiri. Sah-sah saja, kita ingin menjadi penyair yang model bagaimanapun. Istilah mudahnya, yang penting ‘berkonsep’.

2.3 TAHAP-TAHAP DALAM PROSES PENULISAN PUISI
Sebelum seorang penyair berhasil menciptakan sebuah puis, maka pada umumnya akan melewati sejumlah tahap. Utami Munandar 1993 menyimpulkan ada empat tahap dalam proses pemikiran kreatif yang juga berlaku dalam roses penciptaan karya sastra, termasuk puisi. Empat tahap tersebut adalah:
1. Tahap persiapan dan usaha
Pada tahap ini seseorang akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Semakin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki seseorang mengenai masalah atau tema yang digarapnya, makin memudahkan dan melancarkan perlibatan didirinya dalam proses tersebut (Munandar, 1993)
2. Tahap inkubasi atau pengendapa
Yaitu dengan cara mengolah semua bahan mentah dan diperkaya dengan masuka dari alam prasadar yaitu semua pengetahuan dan pengalaman relefan yang telah diperoleh. (munandar, 1993)
3. Tahap iluminasi (mengekspresikan gagasan atau ide dalam karya puisi.
Ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelumnya, yaitu yang berkaitan dengan sifat ekspresi puisi yang secara karakteristik berbeda dengan proses.
4. Tahap verifikasi
Tujuan dari verifikasi adalah untuk menghasilkan suatu karya yang siap untuk dikomunikasikan (Muanandar, 1993).

Pada awal proses kreatinya, setiap kali selesai menulis puisi, penyairu Linus Suryadi A.G (1984) melakukan verifikasi sebagai berikut: “setiapa kali saya selesai menulis sebuah puisi, lalu sasy bandingkan dengan karya mereka (para penyair terkenal seperti Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Joko Damono, dll)”.

Seperti halnya membuat suatu tulisan puisi juga memiliki Proses pembuatan. Proses pembuatan Puisi tersebuat menurut Andi (dalam http://forumkami.com) yaitu:

a) pikiran dan perasaan
Keinginan menulis puisi biasanya diawali dengan munculnya gagasan. Gagasan tiba-tiba melintas begitu saja ketika perhatian kita tertuju pada suatu objek atau pengalaman. Apa yang ditangkap oleh mata dan telinga, mengkristal dalam pikiran kita hingga menjadi sebuah tema. Dari gagasan yang mengkristal menjadi tema itu kemudian diterjemahkan oleh perasaan untuk diungkapkan dengan bahasa.
b) ungkapan
Apa yang ada di pikiran dan perasaan tadi mulailah kita ungkapkan dengan menuangkannya ke dalam kata-kata. Sebagai alat ekspresi, maka kata-kata harus betul-betul bisa mengungkapkan apa yang di kepala dan hati tadi. Untuk itulah, mulailah sebuah proses pemilihan kata (diksi). Proses ini biasanya dianggap bagian paling sulit dalam pembuat puisi karena tidak mudah dan cepat untuk menemukan kata-kata yang sesuai.
c) interpertasi
Ketika kita menemukan sejumlah kata, maka proses yang mengiringinya adalah mencoba menginterpertasikan atau membuat penafsiran terlebih dahulu apakah kata-kata yang kita pilih itu mempunya makna yang sesuai dengan keinginan kita. Untuk itu, kembali kita lihat bagaimana hubungan antarkata hingga menjadi larik, hubungan antarlarik hingga menjadi bait, dan hubungan antarbait, termasuk pemenggalannya (anyambemen) hingga sesuai dengan tema yang ada dalam pikiran dan perasaan kita.
d) indah
Kesempurnaan sebuah puisi adalah ketika pikiran dan perasaan kita dapat terwakili dengan pas dan sesuai oleh kata-kata yang terpilih dan menimbulkan bunyi-bunyi yang indah. Ada kepuasan tersendiri ketika puisi yang kita buat sudah mampu memenuhi keiinginan kita dan mampu menarik perhatian bagi penikmatnya karena keindahannya.

Berikut tahapan dalam membuat puisi menurut Andi (dalam http.forumkami.com):
1. Pencarian ide
Kumpulkan atau gali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian atau peristiwa, pengalaman (pribadi), social (masyarakat), ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
2. Perenungan
Memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari ide yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.
3. Penulisan
Inilah proses yang paling rumit, mengerahkan energi kreatif (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi(peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendak mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.
4. Perbaikan atau revisi
Baca kembali karya yang telah Anda ciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat.
Biasanya, proses revisi atau perbaikan ini memakan waktu lama, hingga puisi tersebut telah dianggap jadi dan tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki oleh penulisnya.
Untuk mahir berpuisi, maka Anda harus terbiasa dan akrab dengan kegiatan membaca. Apapun yang Anda baca, Anda harus melahapnya dalam porsi lebih. Hal ini untuk memunculkan kreatifitas pandang pikir.
Selain itu, Anda juga harus mampu membaca segala yang tersurat dan tersirat dalam kehidupan ini. Baik itu kejadian-kejadian dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, membaca keadaan diri Anda (pengalaman dan cara pandang).
Singkatnya, Anda harus mampu menemukan hal-hal yang menjadi inspirasi dan kekuatan Anda dalam berkarya dari manapun sumbernya. Biasakan pula diri Anda membaca kritik-kritik puisi yang ada. Hal ini mampu membangun apresiasi dengan baik.
Setidaknya dengan membaca sebuah kritik karya, Anda akan akan mampu melihat sebuah kelemahan dan keunggulan karya yang dikritik itu sehingga memperkaya wawasan Anda dalam menulis.
Hal penting lainnya adalah menulis. Meski ada beberapa cara, namun Anda tidak perlu terlalu terikat pada aturan. Anda bebas menulis apa saja sesuai keinginan hati, baru kemudian melakukan pengeditan.
Untuk berlatih, Anda juga bisa melakukan teknik copy the master, yaitu dengan memenggal sebagian puisi yang berirama lalu kita lanjutkan dengan tulisan Anda sendiri. Cara ini sangat efektif untuk mengasah kemampuan menulis Anda.
Hal yang tidak kalah penting adalah banyak berlatih dan tidak terpaku pada satu gaya penulisan. Sering-seringlah berlatih, melakukan diskusi atau membahas karya bersama penikmat dan pemerhati karya sastra, dan menyempurnakan karya-karya tulisan Anda, maka kemampuan Anda dalam berpuisi akan semakin terasah ah dengan baik.

http://umanradieta.blogspot.co.id/2011/03/cara-mencari-ide-untuk-menulis-dan.html?m=1

Iklan

Anomie, Anomaly, Anonymity, and ‘Anomalisa’

Keerthi Purushothaman

I found ‘Anomalisa’ on the newest addition to my life: my Amazon Prime subscription. I knew little about the film before I watched it; I did not even know it was animated. The movie surprised, shocked, and made me feel things enough to push me to write a review. I don’t watch a lot of TV or films, so count this as a rare occurrence in this blog.

Lihat pos aslinya 996 kata lagi

Love at first sight (and in retrospect)

Keerthi Purushothaman

(Chosen as Editor’s Pick of the Day (Essay) on WordPress Discover – 13 June 2017)

“For those who pass it without entering, the city is one thing; it is another for those who are trapped by it and never leave. There is the city where you arrive for the first time; and another city which you leave never to return. Each deserves a different name.” – Marco Polo in Italo Calvino’s Invisible Cities

Writing about a city is a meditation of one’s self and a mediation of one’s wills. For me, it also happens to be a job. As a result, I am quite conscious about how words make a city. I write about the same city in different ways – for project reports, for blog articles, and even in my personal journal. Isn’t everything we do somehow rooted in space? All of these writings are centered around urban (or

Lihat pos aslinya 928 kata lagi

FORGET what is gone, APPRECIATE what still remains — Department Of Love, One Size Fits For All – iHateQuotes

FORGET what is gone, APPRECIATE what still remains.. As we grow older and wiser, we begin to realize what we need and what we need to leave behind. Sometimes walking away is a step forward. FORGET what is gone, APPRECIATE what still remains and LOOK FORWARD to what is coming next. FORGET what is gone,…

melalui FORGET what is gone, APPRECIATE what still remains — Department Of Love, One Size Fits For All – iHateQuotes